Kaba Cindua Mato
1. Sinopsis
Kaba Cindua Mato menceritakan tentang seorang pemimpin yang memimpin seorang raja perempuan bernama Bundpeo Kanduang, ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bergelar Dang tuanku. Dang Tuanku memiliki seorang kepercayaan yang bernama Cindua Mato. Pada suatu ketika, Bandaharo (Salah seorang dari Dewan Empat Menteri yang berkedudukan di Sungai Tarab) menyelenggarakan keramaian untuk mencarikan jodoh anaknya, Putri Lenggo Geni. Bundo Kanduang menyuruh Dang Tuanku untuk mengikuti keramaian itu sekaligus melamarkan putri Lenggo Geni untuk Cindua Mato. Ternyata lamaran tersebut diterima oleh Bandaharo. Namun, saat berada di Sungai Tarab, Mereka mendengar kalau tunangan Dang Tuangku yang bernama Putri Bungsu akan dikawinkan dengan Imbang Jayo karena dikabarkan Dang Tuanku telah sakit keras dan dibuang. Sekembalinya mereka ke Pagaruyung, Bundo Kanduang mengutus Cindua Mato untuk menghadiri pernikahan putri Bungsu, dan Dang Tuanku secara rahasia menyuruh Cindua Mato untuk membawa lari Putri Bungsu. Bundo Kanduang marah atas tindakan Cindua Mato ini, namun ia mendapat pembelaan dari Dang Tuanku. Akhirnya diselenggarakan juga pernikahan Dang Tuanku dengan Putri Bungsu dan Cindua Mato dengan Putri Lenggo Geni. Sementara itu Imbang Jayo datang ke Pagaruyung untuk menuntut tunangannya yang telah dibawa pergi. Imbang Jayo mengamuk dan dibunuh oleh Rajo Duo Selo. Tiang Bungkuak, ayah Imbang Jayo datang menuntut balas. Cinduo Mato bertarung menghadapi Tiang Bungkuak dan berhasil mengalahkannya. Akhir cerita Cindua Mato menjadi raja di Sungai Ngiang dan Sakalawi. Ia kawin lagi dengan Putri Linduang Bulan dan berputra Sutan Amrullah. Setelah anaknya dewasa Cindua Mato menyerahkan kekuasaan pada anaknya dan kembali ke Pagaruyung memerintah alam Minangkabau menggantikan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku yang telah diangkat ke langit.
2. Nilai Moral
Cindua mato dicertikan hanya sebagai hulubalang, namun dengan kecerdasaannya, keahlian, dan kecerdikannya ia bisa mengalahkan musuh. Kecerdikannya mewakili pepatah minang “ ilak salangkah, untuak maju saribu Langkah”
Komentar
Posting Komentar