Kaba Sabai Nan Aluih

 1. Hakikat Kaba

Kaba adalah kesusastraan Minangkabau sejenis fiksi. Fiksi menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah cerita rekaan (roman, novel dll) yang tidak berdasarkan kenyataan atau rekaan belaka alias khayalan dari pengarangnya. Dari pernyataan di atas sepertinya membawa kembali ingatan kita ketika membuka lembaran awal cerita-cerita kaba yang telah dituliskan menjadi buku. Biasanya pada lembaran awal kaba itu dibubuhkan pernyataan penulis bahwa kaba itu adalah cerita yang sebenarnya yang pernah terjadi dalam masyarakat Minangkabau pada suatu waktu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kaba adalah sastra tradisional minangkabau yang berbentuk prosa berirama, kalimatnya sederhana dengan 35 kata sehingga dapat diucapkan secara berirama atau didendangkan, tema ceritanya bermacam-macam, seperti kepahlawanan, petualangan, pelipur lara dan kisah cinta. 

2. Sinopsis Kaba Sabai Nan Aluih

Di tengah Padang hiduplah sepasan suami istri bernama Rajo Babandiang dan Sadun Saribai. Keluarga kecil ini memiliki dua orang anak. Anak yang tertua bernama Sabai nan Aluih. Sedangkan adiknya bernama Mangkutak. Mereka hidup rukun damai sekeluarga. Sabai merupakan anak gadis yang jarang keluar rumah, Ia lebih senang di rumah. Namun, kecantikan paras perempuan ini sudah menyebar kemana-mana. Lain halnya dengan mangkutak yang berkulit coklat karena terbakar matahari. Adik laki-laki sabai ini memiliki hobby bermain layangan, sehingga sangat jarang sekali berada di rumah. Sabai adalah gadis dewasa yang tengah ranumnya. Setiap pemuda di kampung ingin melamar dan mempersuntingnya. Termasuk Rajo nan Panjang Angan, Seorang yang disegani di Kampung situjuah.

Rajo nan Panjang kemudian mengutus 3 orang anak buahnya untuk melamar Sabai. Sayangnya lamaran tersebut ditolak dengan halus oleh Rajo Babandiang, ayah Sabai. Alasannya asalah Sabai belum cukup dewasa untuk menikah, Sabai belum mau berumah tangga. Mendapat penolakan Rajo Babandiang tentunya menjadi coretan arang di kening Rajo Nan Panjang. Ia pun kemudian menantang ayah Sabai nan Aluih untuk berduel. Singkat cerita, duel tersebut diterima Rajo Babandiang dengan syarat haruslah dengan tangan kosong. Duel berlangsung sengit, kedua pendekar tersebut mengeluarkan teknik silat masing-masing. Saling serang dan saling bertahan. Tampaknya duel akan berlangsung lama, tapi kemudian Rajo nan Panjang berbuat curang. Peluru dari senapan anak buah Rajo nan Panjang menembus dada Rajo Babandiang. Ia terkapar dan menemui ajalnya disana.

Letusan senapan ini ternyata terdengar oleh seorang gembala, yang kenal baik dengan Rajo Babandiang Kemudian ia berlari ke rumah Rajo Babandiang memberitahukan sabai nan Aluih, tentang duel tersebut. Sabai nan aluih marah dan langsung menyusul ayahnya. Benar ayahnya sudah tak bernyawa, ia semakin naik darah ketika Rajo nan Panjang menertawakan kematian ayahnya. Sabai sudah berubah menjadi singa betina yang siap mengoyak Rajo nan Panjang. Ia menantang Rajo nan Panjang untuk membalas dendam. Singkat cerita, duel yang dianggap remeh oleh Rajo nan Panjang tersebut kemudian berakhir menjadi kuburannya senidiri Ia mati di tangan seorang perempuan yang halus jiwanya, Sabai nan Aluih. Dengan senjata yang merenggut jiwa ayahnya.

3. Pesan Moral

Kisah ini tentunya kaya akan nilai moral, layaknya cerita kaba lainnya. Pesan instrinsik (tersembunyi) dari kisah ini salah satunya adalah mengenai bagaimana seharusnya perempuan minang bersikap. Ia bisa sangat lemah lembut, dan bisa lebih ganas dari singa betina bila keluarganya diusik. Dijelaskan dalam petatah-petitih minang. 

Bajalan si ganjua lalai, pado pai suruik nan labiah.

Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati

Komentar